Sumitomo Chemical menyatakan force majeure kemarin, menjadikannya perusahaan kimia Asia kelima dalam satu minggu. Pertama Chandra Asri di Indonesia, kemudian Yeochun NCC di Korea Selatan. Pada 5 Maret, Petrochemical Corporation of Singapore telah menyatakan force majeure pada 1,1 juta ton kapasitas etilena di Pulau Jurong. Aster menyusul sehari kemudian dengan kerupuknya berjalan dengan setengah kapasitas. Akar penyebabnya sama untuk kelimanya: nafta, bahan baku yang dipecah oleh tanaman ini menjadi bahan kimia dasar di balik plastik, karet, dan kemasan. Kerupuk uap Asia mendapatkan sebagian besar nafta mereka dari Timur Tengah, dan hampir semuanya melewati Selat Hormuz. Ketika Selat ditutup, kelimanya kehilangan bahan baku mereka dalam beberapa hari. Lima force majeure dalam tujuh hari. Ini adalah gangguan besar-besaran dari bahan kimia yang menyatukan ekonomi global. Harga polimer sudah naik dua digit. Segala sesuatu di hilir menjadi lebih mahal dari sini.